Pages

Kamis, 24 Oktober 2013

Berkaca Pada Finlandia : Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia

"The mediocre teacher tells,
The good teacher explains,
The superior teacher demonstrates,
THE GREAT TEACHER INSPIRES !"
 
(William Arthur Ward
Ya memang seperti itulah yang seharusnya dilakukan oleh setiap guru kepada muridnya, kutipan kalimat dari William Arthur Ward mengenai peranan penting seorang guru bagi muridnya hingga berpengaruh terhadap sistem pendidikan dalam suatu negara nya.
Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Jawabnya adalah: Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki tersebut,memang luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.
Peringkat satu dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA, mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas! Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi negara dengan kualitas pendidikan nomor satu dunia?
Pertama, Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam per minggu.
Lalu apa kuncinya?
Ternyata kuncinya terletak pada kualitas guru!
Guru-guru Finlandia boleh adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah terlalu besar. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Tingkat persaingan lebih ketat dibandingkan masuk ke fakultas bergengsi lain seperti fakultas hukum atau kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya hanya memiliki kualitas seadanya dan merupakan hasil didikan perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.
Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan pelatihan guru yang berkualitas, tak salah jika mereka menjadi guru-guru dengan kualitas luar biasa. Dengan kualifikasi dan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan test itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak test membuat guru cenderung mengajar siswa hanya untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 tahun siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Kalau siswa bertanggungjawab, mereka guru bekerja lebih bebas karena tidak harus selalu mengontrol mereka. Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita hanya menuliskan apa yang dikatakan oleh guru.
Di Finlandia guru tidak mengajar dengan metode ceramah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan. Siswa yang lambat mendapat dukungan secara intensif baik oleh guru maupun siswa lain. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaannya antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk.
Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dan lain sebagainya. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan  membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.
Kehebatan dan keberhasilan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya!
Itu benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggung jawab.
Sumber: http://biologimediacentre.com/finlandia-negara-dengan-kualitas-pendidikan-terbaik-di-dunia

Selasa, 23 Juli 2013

Berargumen Melalui Pendapat

Selamat datang di Argument's Blog. Sebuah Blog yang berisi Pendapat dari apa yang dilihat dan didapat tentang berbagai macam hal kehidupan sehari-hari. Bukan bercerita, tapi menceritakan yang perlu diceritakan. Dari kegelisahan sampai kebahagiaan, dari kesalahan sampai kebenaran, dari bacaan sampai ke tulisan, dari perselisihan sampai perdamaian, dan dari Pendapat jadi manfaat.

Pendapat itu hak setiap orang, jadi selagi masih menjadi orang kenapa tidak memanfaatkan haknya dengan sepenuhnya. Jangan sampai nanti haknya diambil orang lain karena kita ga bisa memanfaatkan sepenuhnya. Kalau kita ga bisa menggunakan hak berpendapat kita pasti banyak orang yang menganggap remeh. Gunakan hak yang kita berhak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, minimal buat diri sendiri dulu.

Hak Berpendapat setiap orang itu emang bebas, tapi ga harus selalu bener juga. Pendapat itu cuma suatu pemikiran seseorang tentang suatu masalah untuk mencari jalan keluar, dan cara orang lain berpikir untuk mencari jalan keluar kan beda-beda jadi wajar kalau banyak perbedaan pendapat. Pendapat yang ga dipilih untuk jadi jalan keluar masalah itu bukan berarti pendapatnya salah, mungkin cuma kurang tepat aja. hehehe...

Iya.. Sebenarnya itu Gak ada pendapat yang salah, cuma yang kurang tepat banyak. Yang kurang tepat juga bukan berarti salah dan ga pantes untuk berpendapat lagi, hanya saja diperlukan pemikiran yang lebih universal bukan individual dalam berpendapat agar pendapat kita bisa disetujui banyak orang. Mungkin kita masih harus lebih banyak belajar berargumen.

Pendapat itu asalnya memang dari individual namun sifatnya harus universal. Memihak boleh, tapi sebisa mungkin harus memihak pada kebenaran. Walaupun belum tentu benar tapi lakukan dulu dengan landasan kebenaran secara umum. Jadi, silahkan berpendapat dan berargumen lah sesuai pandangan kalian. Dapatkan hak dan bertindak. Pendapat bukan untuk menghasilkan pendapatan tapi menghasilkan Manfaat. Bukan menciptakan kegelisahan tapi kebahagiaan. Bukan untuk mencari kesalahan tapi kebenaran. Bukan untuk menimbulkan perselisihan tapi menciptakan kebahagiaan. Bukan hanya di lisan tapi juga di tulisan.
Banyak Pendapat Banyak Manfaat.